suara alumni lgsp

upaya jurnalis sumbar menunjang good governance

Berita dan Seni Menulis Berita

Berita dan Seni Menulis Berita Oleh H.Darlis Syofyan 1. Berita SALAH satu isi suratkabar adalah berita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berita adalah, cerita atau keterangan tentang kejadian atau peristiwa yang hangat. Dalam masyarakat kita, berita itu sudah menjadi kebutuhan. Buktinya, jika seseorang bertemu kawan, apalagi kawan lama, ucapan pembuka kata adalah, “Apo kaba (apa kabar)?”. Masih dalam KBBI, Kabar itu artinya berita. Kabar yang dimaksudkan adalah, berita yang harus disampaikan kepada kawan, dalam bentuk lisan. Tidak jauh beda sebenarnya bahasa lisan dengan bahasa tulisan. Walaupun dalam bahasa lisan, kita bisa memberikan pengantar yang panjang, dengan membumbui berbagai ilustrasi, kemudian baru sampai kepada isi. Namun berita yang disampaikan secara lisan itu akan lebih baik, jika kita juga memakai lead atau teras, apalagi jika kita beri judul. Misalnya ketika kawan bertanya apa khabar, langsung dijawab dengan memberi judul. “Kini ada kabar buruk. Rekan kita Amir meninggal karena kecelakaan, di jalan A.Yani, Payakumbuh pagi tadi. Ia mengendarai roda dua kemudian jatuh disenggol oplet, mayatnya di rumah sakit”. Jika kita tuliskan kabar singkat itu persis sebagai judul dan teras berita di suratkabar. Orang lebih enak mendengar berita singkat yang jelas seperti itu dibanding penyampaian yang dibumbui dengan pengantar dan cerita yang panjang. Misalnya ada cara orang menyampaikan berita lisan memulai dengan kata, ondeh kemudian dibumbui dengan kata gawat dan mengerikan, sudah lima menit ia bicara, penerima berita belum bisa mengambil sari informasi yang dibawa itu, kecuali sipendengar larut pula dalam ekspresi orang yang menyampaikannya, seperti sedih dan gemetaran serta seperti kehilangan akal. Dari peristiwa itu muncul pertanyaan, bagaimana menuliskannya dalam berita? Pertanyaan tersebut muncul, bagi mereka yang berminat untuk menulis sebuah berita di suratkabar. Orangnya mungkin kita semua yang berada di ruangan ini. Pengamalan saya menjadi wartawan 30 tahun, pertanyaan yang paling banyak diajukan kepada saya oleh rekan-rekan yang tidak menekuni suratkabar adalah, bagaimana cara menulis berita? Jawaban saya singkat saja, menulis berita itu adalah seni. Sebab salah satu arti seni adalah, keahlian membuat karya yang bermutu. Jadi menulis berita itu juga suatu keahlian. Karena dia seni, menurut saya tidak banyak pula orang yang mampu menguraikan cara menulis berita yang baik. Mungkin sama dengan belajar sepakbola. Ada memang teorinya dan sama seluruh dunia, tetapi kenapa Pele dari Brazil yang menjadi pemain dunia, kenapa tidak Joko Malis yang dari Indonesia? Bolanya sama bulat, lapangannya sama panjang dan buku pintarnya juga sama. Begitu pula dengan wartawan, ada yang baik penulisan beritanya ada yang sedang-sedang saja. Namun demikian untuk menuliskan sebuah berita, kita harus berangkat dari fakta-fakta dan mengikuti kaidah-kaidah yang harus di pegang oleh wartawan. Berita suratkabar hanya menyajikan fakta-fakta, tidak boleh beropini. Sedangkan berita di majalah, penekanan beritanya kepada analisis dan cendrung berbentuk feature, semua itu disebut karya jurnalistik. 2. Seni menulis berita Para pengamat pers cendrung membagi karya yurnalistik dalam bentuk tulisan menjadi tiga. 1. Stright News, berita terbaru yang dimuat di suratkabar yang juga disebut sebagai spot news ataupun breaking news. 2. News Feature , memperkaya straight news dengan human interest (kemanusian), ini cerita di balik peritiwa dengan mengungkapkan latar belakang dan persspektif dari berita tersebut. 3. Feature orang, media menyebutnya sebagai artikel kreatif, terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan, ini disajikan dengan bahasa yang khas. Berita tersebut terdiri dari; 1. Judul 2. Lead (teras berita) 3. Isi (batang tubuh) 1. Judul Kekuatan utama dari sebuah berita itu terletak di judulnya. Ketika seseorang melihat Koran di lapak penjualan, mata mereka tertuju kepada judul yang menarik, dari sanalah muncul hasrat untuk membaca berita itu dan tentunya diiringi dengan kerelaan untuk membuka dompet membeli suratkabar tersebut. Judul berita dibuat dengan kalimat pendek, tapi menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Usahakan memakai kalimat aktif. Contohnya, “Truk Tabrak Amir dan Tewas”. Bandingkan dengan kalimat pasif, “Amir Tewas Ditabrak Truk”. Ada beberapa ukuran yang biasanya dipakai untuk membuat judul • Jangan padatkan semua di situ, hanya highlight saja. • Ringkas hanya tiga maksimal delapan kalimat • Buat aktif • Katanya sederhana, jika singkatan harus yang dimengerti orang • Merketable, judul itu hendaknya bersifat menjual • Attraction, mampu menarik calon pembeli • Intention, mendorong minat orang untuk mengetahui isinya. • Action, akhirnya mereka bereaksi untuk membeli suratkabar kita. 2. Lead (teras berita) Setelah judul, isi berita itu bisa dilihat pada lead dan teras berita. Dari lead itulah orang bisa memahami isi berita tersebut. Mereka yang sibuk, cukup hanya dengan membaca lead, mereka sudah tahu isi berita tersebut. Dan dari lead itu pulalah yang mendorong orang ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang berita tersebut. Kunci menulis lead adalah, 5 W + 1 H dan + 1 S. Lima W adalah, What (Apa), Where (Dimana), When (Kapan), Why (Mengapa), Who (siapa) . Satu H adalah How (Bagaimana) Satu S adalah security (keamanan). Lead ini, diambilkan dari yang paling menarik dari suatu peristiwa, sehingga wartawan menyebut juga lead itu sebagai kunci berita. Atau ada juga yang menyebut platuk berita. Bobot dan kepintaran wartawan dalam menyajikan berita akan terlihat pada kemampuannya dalam menuliskan lead berita. 3. Badan Berita Badan berita, penulisannya lazim disebut dengan teori piramida terbalik. Hal-hal yang pokok dan utama ditempatkan paling atas, sedangkan penjelasan serta keterangan tambahan yang berhubungan dengan berita tersebut dituliskan secara sistimatis dalam badan atau tubuh berita. Namun penulisan dalam badan berita itu harus terarah dan tidak boleh ke luar dari lead. Dalam piramida terbalik ini sengaja dibuatkan semakin ke bawah, berita tersebut semakin tidak penting. Ini membantu redaktur dalam memotong berita jika tempat tidak tersedia dengan cukup di halaman suratkabar. Namun pemotongan berita itu tidak akan merusak keutuhan informasi yang dibawa oleh berita tersebut. Mencari Berita Berita itu ada yang datang dari Tuhan dan yang dicari oleh wartawan. Datang dari Tuhan misalnya undangan acara dan bencana alam atau peristiwa kecelakaan yang menimpa diri manusia. Dan yang lain ada berita yang dicari oleh wartawan atau investigasi. Apapun berita itu jenisnya, yang harus di rinci betul adalah tentang Sumber. Harus jelas nama, umur dan jabatan atau peranannya dalam berita serta peristiwa. Terhadap data-data yang didapat harus dilakukan cek dan ricek bahan yang sudah didapat, hal ini juga harus dilakukan menyangkut akurasi waktu, tempat serta lamanya terjadi peristiwa. Terhadap hal ini sekarang wartawan sudah memakai istilah triple cek. Ada tujuh hal penting yang harus diperhatikan dalam menulis berita 1. Watawan harus memahami informasi yang mereka tulis 2. Tampilkan fakta-fakta yang mendukung 3. Jangan terlalu banyak klise hadirkan informasi yang spesifik yang dibutuhkan pembaca. 4. Organisasikan tulisan itu dengan baik 5. Gunakan tata bahasa, tanda baca dan ejaan secara baik 6. Tuliskan berita secara berimbang 7. Sadarilah bahwa kita menyampaikan informasi kepada pembaca yang membeli koran kita secara benar. Bahasa Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik. Selalulah gunakan ejaan yang benar. Jika menulis berita, selalulah melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika ada istilah asing atau bahasa daerah, tulislah dengan miring dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia**.

September 29, 2006 - Ditulis oleh lgsp | Makalah narasumber | | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.