suara alumni lgsp

upaya jurnalis sumbar menunjang good governance

Poster APBD Padang Panjang

Pentingnya tranparansi dalam penyelenggaraan pembangunan dan semua pihak diharapkan ikut berpatisipasi secara positif ,menilai,mengawasi dan memberikan masukan dalam penyelenggaraan pembangunan di Kota Padang Panjang,sedangkan penerbitan poster anggaran bertujuan agar seluruh stake holder ikut mengetahui anggaran dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan.

  Hal ini  disampaikan  Kepala Bappeda Ir Edwin Sp saat menjelaskan penyelenggaraan  Seminar Tranparansi Anggaran dan Launching Poster Anggaran Kota Padang Panjang Tahun 2006,di Hall Balai Kota Selasa(17/10).

Dari seminar ini diharapkan menjadi forum pembelajaran bagi semua pihak,baik eksekutif selaku pelaksana anggaran maupun masyarakat yang memanfaatkan hasil pembangunan sekaligus selaku pengawas.Kegiatan ini merupakan kerjasama LGSP dengan Pemerintah Kota Padang Panjang. “ujarnya

Sementara itu Walikota Padang Panjang dalam sambutanya menyebutkan peran masyarakat dalam pembangunan sangat penting terlebih diera otonomi karena masyarakat mulai kritis terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah.Peran masyarakat sudah dimulai dari proses perencanaan,penganggaran,hingga pada tahap pelaksanaan,apalagi diera keterbukaan seperti sekarang ini ,peran masyarakat sangat besar “Masyarakat ingin mengetahui apa yang dilakukan pemerintah,untuk itu perlu peningkatan kapasitas masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran”ujar Suir Syam

Hadir sebagai narasumber Walikota Padang Panjang,dr H Suir Syam MKes. MMR dengan makalahnya berjudul Tranparansi Anggaran Langkah Awal Menuju Good Governance di Kota Padang Panjang,sedangkan  M Muntajib Bilah dari Spesialis Penguatan Masyarakat,National Office LGSPJakarta mengangkat tema Pokok pikiran partisipasi masyarakat dalam siklus anggaran.Seminar yang diikuti seluruh pimpinan SKPD Pemerintah Kota,LSM<Dewan Pendidikan,Tokoh Masyarakat,Pers,Tim Teknis LGSP Dan unsur perguruan Tinggi sekota Padang Panjang.Seminar dipandu oleh moderator Drs Reflis MTP dari Balitbang Bappeda Kota Padang Panjang.

Launching Poster Anggaran

Selesai seminar Walikota Padang Panjang dr H Suir Syam M Kes MMR menyerahkan Poster Anggaran Poster kepada Lurah Guguk malintang mewakili Kec Padang Panjang Timur,Lurah Silaing Bawah mewakili Kec Padang Panjang Barat,Taslimudin Dt Tungga ,dan ,Surya Eka Priyana mewakili tokoh masyarakat Kepala UPTD BLK mewakili Propinsi dan Kabag Humas Bustami Narda mewakili Pers

Iklan

Desember 9, 2006 Posted by | Berita | 3 Komentar

Tugas kelompok III angkatan II

Padang, Lgsp
Guna meningkatkan peran pers dalam mendukung terciptanya tata pemerintahan yang baik (good governance), sekaligus meningkatkan profesionalitas wartawan, Local Governance Support Program (LGSP) Kantor Regional Sumatera Barat menggelar Workshop Jurnalistik I (Angkatan II) yang dipusatkan, di Balai Diklat BRI Limau Manih Padang.

LGSP Sumatera Barat menggelar Workshop Jurnalistik I selama 3 hari sejak 24 Agustus lalu di Balai Diklat BRI Limau Manih Padang. Menurut Ahmad Yundra, fasilitator LGSP, workhop ini melibatkan wartawan Sumatera Barat. Tujuannya meningkatkan profesionalisme mereka.

Workshop yang di selenggarakan dari tanggal 24 s/d 26 Agustus itu diikuti 30 wartawan daerah dari berbagai media cetak dan eletronik yang masuk wilayah kerja LGSP Kantor Regional Sumatera Barat, bertujuan untuk meningkatkan professional insan pers yang bekerja di berbagai daerah

Fasilisator workshop Jurnalistik I (angkatan II) ujar Ahmad Yundra.SH dari LGSP kepada sejumlah wartawan di tengah penyelenggaraan workshop jurnalistik mengatakan, Workshop Jurnalistik bagi kalangan wartawan di selenggarakan sebagai bagian program kerja LGSP khususnya dalam rangka menunjang kemampan wartawan dalam melaksanakn tugas jurnalistik.
Dikatakan wartawan daerah sebagai sasaran program pembangunan LGSP Regional Sumatera Barat dalam penyelenggaraan kegiatan kepemerintahan selama ini di tempatkan selaku mitra kerja dari pemerintah daerah karenanya perlu perbaikan konstribusi para wartawan melalui pendekatan SDM mereka untuk percepatan pembangunan yang good governance.dengan tidak mengabaikan penajaman kemampuan fungsi control mereka di daerah.

Menurut Ahmad Yundra, selama workshop berlangsung, peserta akan menerima beberapa materi tentang peran dan fungsi pers dalam mencari, menggali dan memberikan informasi kepada masyarakat guna mendukung terciptanya “Good Governance”.dengan menghadirkan berbagai nara sumber yang berasal dari berbagai praktisi pers di Sumatera Barat, diantaranya Eri Satri, Sutan Zailil Asril, Darlis Syofyan dan lainnya.

Untuk memudahkan peserta memahami materi dan peningkatan kemampuan mengunakan perangkat kerja jurnalistik panitia menyediakan berbagai sarana penunjang, diantaranya computer , block note, kasus jurnalistik , ATK serta puluhan materi makalah

Sementara itu Eri Satri, tokoh pers Sumatera Barat sekaligus pimpinan Perusahaan Harian Independen yang di tunjuk sebagai nara sumber di hadapan wartawan peserta work shop dalam penyampaian materinya menekankan dalam beberapa temuan dan hasil kerja jurnalistik terlihat masih menghadapi berbagai kendala.

Kendala utama yang dimiliki insane pers daerah adalah kurangnya pemahaman dan penguasaan bidang kejurnalistikan wartawan yang jadi pilihan profesi mereka, terutama dalam teknik menulis berita dan berwawancara, di samping minusnya literature yang mereka miliki dalam menyikapi suatu persoalan.

Dengan adanya pelatihan jurnalistik ini, Eri Satri menyiratkan juga rasa optimisnya dunia pers ke depan bakal memegang peranan yang amat besar dalam pembangunan, untuk itu ia berharap pihal LGSP terus meningkatkan kepedulianya atas keberadaan wartawan daerah, dengan membuat strategi pembinaan tersendiri.

Joni Aulia salah seorang peserta workshop jurnalistik dari tabloid kampus ternama di kota Padang ketika diminta pendapatnya tentang penyelenggaraan workshop jurnalistik dan materi yang di sajikan oleh para tokoh Pers Sumatera tidak dapat menutupi kegembiraan dan rasa syukurnya atas keikut sertaanya dalam workshop di maksud.

Tidak dipungkiri selama ini ia dan beberapa wartawan daerah belum memeliki kemampuan dasar jurnalistik, akibatnya ia sering terpeleset menggunakan kaedah bahasa yang kurang baik, padahal medianya berada dan beredar di lingkungan kampus.

Itu baru dari sisi pengunaan kaedah bahasa tukuknya, belum kemampuan jurnalistik lain, baik itu teknik menulis berita, berwawancara , Padahal kemampuan seperti itu sudah harus di pahami dan dikuasai wartawan.

“Wartawan daerah beranggapan mereka telah menjalankan tugas jurnalistik secara baik padahal mereka sering jatuh pada persoalan mendasar dalam menulis sebuah berita seperti kaedah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar,” jelasnya.

Sementara salah seorang peserta Workshop Jurnalistik, Jhoni Aulia saat diminta tanggapannya mengaku bangga bisa mengikuti kegiatan ini sebab pelatihan merupakan cara cerdas meningkatkan kemampuan individu terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

“Sebagai pilar keempat demokrasi, pers berperan penting dalam mewujudkan terciptanya tata pemerintahan yang baik “Good Governance”, makanya insan pers mesti terus meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya setiap saat. Disamping itu pelaksanaan kegiatan tidak selesai hingga disini, namun justru berkelanjutan,” ungkapnya mengakhiri. (k3)

September 29, 2006 Posted by | tugas peserta | Tinggalkan komentar

ALumni Angkatan I-IV

  • Angkatan I (Pengeran City Hotel
    Padang)

 

IRWAN HANAFI (Rajawali Solok) ZULHERMAN (Zaman) HENDRIZAL (Radar Post)

IKHLAS BAHRI (Publik) ALFIAN (Haluan) MULYADI (Buletin Sumbar) RAHMATRI (Zaman) MASRIWEL ST MARAJO (Tribun Sumbar) FRANSISCO (Bahana FM) RIDWAN (Haluan) ERMAN ST MARLAUT (Mimbar Minang) PAUL HENDRI (Lintas Media) BASRIZAL (Bakin News) YUSUF EFENDI (Unand) GUSNELMANELLI (Rajawali) IKHLAS (Publik) FERI YULIADI (Lintas Media) YENI LAURA (Suara Pembangunan) YEMRISON (Sangkakala) ZULKIFLI (Serambi Pos) FATHNAINI (Faterna Unand) FITRI HANDAYANI (Fmipa Unand) ARIADI USKA (Posmetro) ASRIAL GINDO (Singgalang) IKHWAN WAHYUDI (Pers Kampus)

M SYUKUR (Publik) YULICEF ANTONI (Rakyat Mandiri) DUS ENROZA (Singgalang)

 

  • Angkatan II (Balai Diklat BRI
    Padang)

AWALUDDIN PILIANG (Singgalang) SYAMSIR KOTO (Singgalang) DASRIEL (Posmetro) RAFINOS (Figur) AURIZAL (Padang Ekspres) HENKI REFEGON (Unand) AFDHAL (Iunand) BUSTAMAN (Bin News) RIKA OKTAVIANITA (Genta Andalas) JONI AULIA (Suara Kampus IAIN) DEVNI (Media Perjuangan) IRWAHYUDI (Garda Minang) MUDAWAR (Neo Deteksi) ERI SATRI (Media Perjuangan) HEDI WALDINA (Tribun Sumbar) MERI DAMAYANTI (Lintas Media) ALFI SUKRINA AMIR (Serambi Pos) AHMAD YUNDRA (Suara Media) IVONNE KOMPRIANA (Carano FM) SRI AGUSTINI (Posmetro) NIFEA (Unand) KASDI RAY (Serambi Pos)

 

  • Angkatan III (Gran Malindo Hotel Bukittinggi)

M.BUSTANUL ARIFIN (Publik) NIZAM (Gempar Pos) KRISNOPATI (Radar Pos) VERA HERMALINDA (PWI Solok) JONNES (Suara Media) MENRIADI (Lintas Media) WISTAYUKI (Pers Kampus) NETI HERAWATI (Tribun Sumbar) VALENTINA (Unand) YASRIL (Serambi Pos) HAMRIATI (Posmetro) ILYASMADI (Rajawali) RONAL ADITYA PRATAMA (STAIN Batusangkar) DARMI DH (PWI)

 

  • Angkatan IV (Gran Malindo Hotel Bukittinggi)

RUDI ARNEL (Bulettin Rakyat) BENNY AZIZ (Ekspos Indonesia) RAFI (Garda Minang) RAHMI PRAYANTI (Faperta Unand) ERNI (Fisip Unand) ERMANTO (KWRI) R YADRIJAL (Pers Kampus) HENDRI (Pers Kampus) HERY (Pers Kampus) SYARIF HAYATULLAH (Pers Kampus) RETNO BUDI (STSI Padang Panjang) HUSIN (STSI Padang Panjang) BERMAN FRANKLIN (Ganto UNP) TONI HERIAWAN (Unand) M. FAJRIN AZWAR (Unand) RONY SATRIA (STINND Padang) MAR AFRILIA (Garda Minang) CARDA SANGIR (Publik) SAFRINAWATI (Diniyah Putri) SYAFRINI FITRI (Humas) WIDMA LENDRA (Humas) TUTI YAMILA SARI DEWI (Stain Batusangkar) FATHIMAH (Pers Kampus) SEPTI LEDIANA (Ganto UNP) FAKHRI SANI (Sibayak Post) DESRA FAUZAL (Lintas Media) SYAFRIAL (Tribun Sumbar News) FERRY (BIN News)

 

September 29, 2006 Posted by | Daftar Alumni LGSP | Tinggalkan komentar

Teknik Wawancara

Oleh Fachrul Rasyid HF

Interview atau wawancara adalah salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita. Biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan. Berbeda dengan Jumpa pers atau konverensi pers yang dilaksanakan atas kehendak sumber berita.

Beberapa Bentuk Wawancara :

1. News interview atau wawancara berita. Yaitu wawancara untuk bahan berita. Yang ingin diperoleh wartawan dalam wawancara ini bisa jadi sekedar tanggapan atau konfirmasi seorang ilmuwan, pejabat dan sebagainya tentang sesuatu yang berkaitan dengan berita yang akan atau telah ditulis.

Berapa catatan untuk News interview:
a.Jangan mengajukan pertanyaan secara umum. Buatlah pertanyaan khusus, terarah
yang bersifat “menggali” untuk menghindari kesalahpahaman dan mendapatkan
jawaban yang khusus, terinci langsung ke inti masalah.

b.Wartawan pewawancara jangan terlalu banyak bicara. Berbicaralah sekedar menjaga
suasana pembicaraan jangan menjadi kaku. Atau untuk menghindari orang yang
diwawancarai keluar fokus pada angle yang diinginkan atau berbicara melebar ke
mana-mana sehingga waktu terbuang percuma.

c.Wartawan pewawancara juga jangan berbicara di luar angle persoalan yang ditanya-
kan. Jangan menyertakan perasaan tidak senang yang bisa membuat orang yang
diwawancarai tersinggung.

Sebaliknya, sering pula terjadi, sumber berita kadang berbicara menyakiti hati, bahkan
ada yang menggertak wartawan atau mengalihkan pembicaraan sehingga perhatian
wartawan bergser ke soal ain. Jika hal itu terjadi, wartawan harus mampu mengenda-
likan diri dan berusaha dengan cara baik dan sopan untuk kembali ke pokok
pembicaraan.

d.Bersikaplah sopan terhadap orang yang lebih tua. Biasanya orang yang telah lanjut
usia, apalagi pernah populer, sering minta dipotret. Kadang, saat dipotret, orang lain
juga nimbrung minta difoto bersama. Karena itu layani dengan baik dan upayakan
secerdik mungkin sehingga bisa men dapatkan foto diri sang tokoh.

e.Dalam wawancara model ini orang yang diwawancarai kadang tidak memberikan
keterangan yang sebenarnya alias palsu. Ini resiko mewawancarai orang yang
berksempatan mempersiapkan diri sebelum diwawancarai. Atau sebaliknya, karena tak
punya persiapan, tak menguasai atau kurang perhatian dan karena bukan ahli di
bidang yang ditanyakan wartawan. Biasanya orang yang sedang “ketakutan”, suka
memberikan informasi bohong.

Wartawan perlu berhati-hati menganalisa dan menyeleksi informasinya. Biasakan
mengecek kembali keterangan yang diberikan sumber itu atau mencari informasi yang
sebenarnya sehingga wartawan tidak terjebak menyiarkan informasi bohong.

2. Prepard question interview, wawancara yang pertanyaannya disiapkan terlebih dahulu. Artinya wartawan menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk sumbernya. Boleh jadi pertanyaan itu disampaikan langsung oleh wartawan atau ditinggalkan sehingga sumber berita bisa membaca dan menjawab sendiri pertanyaan tersebut. Cara itu disebut wawancara tertulis.

3. Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon. Lazim digunakan dalam keadaan mendesak. (Pada wawancara via telepon, wartawan tak menangkap suasana orang yang diwawancarai).

4. Personality interview atau wawancara pribadi. Seseorang, misalnya seorang tokoh penting didatangi secara khusus didatangi wartawan untuk mendapatkan pendapat atau informasi tentang sesuatu yang perlu dijelaskan secara panjang lebar.

Untuk wawancara model ini wartawan perlu mempersiapkan gambaran masalah dan butir pertanyaannya. Ini penting, untuk mendapatkan informasi dan pendapat yang diinginkan. Dan, dengan persiapan itu wartawan dapat mengendalikan pembicaraan sehingga tidak menyimpang ke mana-mana.

Disamping itu wartawan juga harus arif membaca gelagat sumbernya sehingga tidak memancing amarah atau sumbernya tiba-tiba menutup diri atau menghentikan pembicaraan.

5.Wawancara dengan banyak orang. Ini adalah wawancara yang dilakukan terhadap banyak orang. Tujuannya untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu. Bisa jadi tempatnya di jalanan, di pasar atau di tempat umum lainnya. Pertanyaannya mungkin satu dua. Misalnya meminta pendapat orang tentang suatu peristiwa. Resikonya, besar kemungkinan orang yang diwawancarai tidak tahu sama sekali tentang apa yang ditanyakan. Bagi sumber begini wartawan haruslah memberi penjelasan sebelum bertanya.

6. Wawancara dadakan / mendesak.
Wawancara mendadak dilakukan wartawan, misalnya, secara kebetulan bertemu sebuah sumber penting yang dianggap relevan dengan masalah yang sedang berkembang. Entah itu saat pesta atau di rumah sakit dan sebagainya. Persoalan yang ditanyakan boleh jadi teringat seketika.

Jika hasil wawancaranya memberikan informasi penting, terbaru, pertama kali atau sesuatu yang kontroversial dan layak siar maka wartawan dapat menulis hasil wawancaranya jadi berita menarik.

7. Group interview yaitu serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya. Wawancara model ini pada untung ruginya. Untungnya wartawan punya kesempatan berwawancara. Ruginya, jawaban atas pertanyaan khusus wartawan sebuah media akan didengar dan mungkin bisa jadi berita oleh wartawan lain.

Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan. Perilaku, penampilan dan sikap wartawan yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif.

Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan penguasaan permas-alahan dan informasi seputar materi yang menjadi topik pembicaraan oleh wartawan. Artinya wartawan harus menguasai persoalan yang ia tanyakan.

Kemudian wartawan juga harus mampu membaca kondisi dan situasi psikologis sumber wawancara. Ini penting supaya pembicaraan mengalir dan sumber wawancara bergairah mengemukakan pendapatnya.
Selanjutnya terserah anda.

September 29, 2006 Posted by | Makalah narasumber | Tinggalkan komentar

Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya..
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari
kekuasaan.
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

INDEPENDENSI

Bagaimana dengan elemen ke-4 (Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputan/tulisannya)?
Sebagai wartawan kita harus sebisa mungkin bersikap independen, tanpa takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan.
Namun, dalam banyak kasus, kita para wartawan tidak pernah bisa independen se-independen-independennya. Kita bekerja untuk majikan yang punya kekuasaan dan uang. Atau mungkin kita punya saudara yang dekat kekuasaan. Bahkan jika kita bekerja di sebuah media yang dibiayai oleh donor asing, bisakah kita mengklaim independen?
Kita mungkin bisa independen terhadap partai politik tertentu, tapi bisakah independen terhadap kepentingan bisnis tertentu; wartawan Kompas terhadap Gramedia Group; wartawan Bisnis Indonesia terhadap Sahid Group; wartawan Metro dan Media terhadap Surya Paloh Group, yang tidak hanya bisnisman tapi juga tokoh Partai Golkar?

Bill Kovach memberi jalan keluar untuk kemustahilan itu:
“Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan full-disclosure tentang hubungan itu.”
Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa tulisan/liputan itu tidak independen-independen amat.

VERIFIKASI

Salah satu kata kunci dari semua elemen tadi adalah “disiplin verifikasi” untuk mencapai kebenaran

KOMPREHENSIF DAN PROPORSIONAL

Elemen ini hanya bisa dipenuhi jika wartawan tidak hanya menerima fakta yang terlalu mudah bisa diraih. “Wartawan harus menggali lebih jauh fakta-fakta dan menyusunnya dalam sebuah konteks.”

HATI NURANI WARTAWAN

Kebenaran kadang bersifat sangat elusif. Sangat sering kita wartawan dihadapkan pada keputusan yang harus ditimbang hati nurani, melalui dialog dalam diri kita.
Wartawan yang independen adalah yang bisa exercise hati nurani itu tanpa tekanan dan tanpa iming-iming, termasuk tekanan atasan dan tekanan kehilangan pekerjaan.
Jika seorang wartawan meyakini suatu kebenaran, tapi dia takut mengungkapkannya karena takut dipecat, misalnya, dia tidak independen (Dan kembali lagi ke elemen ke-4).

Lalu, di mana posisi kita sebagai wartawan saat ini? Jawabannya terpulang kepada masing-masing peserta. Selamat menjadi wartawan yang baik. (disarikan dari tulisan farid gaban)

September 29, 2006 Posted by | Makalah narasumber | 7 Komentar

Press, Today Challenge, and the Future

Oleh: H. Sutan Zaili Asril

A.Pers atau Press, Journalist, Reporter

I.Press atau Pers

1.Lembaga kewartawanan, lembaga penerbitan/penyiaran/penayangan/lembaga vertualitas
2.Lembaga Pers dan badan usaha pers – sebagai badan usaha (business entities)
3.Produk pers dalam bentuk: cetak; elektronik; televisi; maya (virtual)
4.Karya jurnalistik sebagai produk intelektual

a. Produk jurnalistik berbentuk:
1). Berita: straight news, hard news, spot news, talking news, news analysis, news profile,
2). Deep reporting/laporan perjalanan/laporan kunjungan
3). Feature, selalu berkaitan dengan manusia/kemanusiaan
3). Profile: orang/figure/tokoh, wilayah, sektor, perusahaan, cabang tertentu;
4). Opini: artikel/editorial atau tajuk rencana/ulasan atau komentar/kolom khas/pojok
5). Karikatur

5. Karya jurnalistik sebagai produk intelektual, yang menerapkan prinsip-prinsip moralitas dan akademis/methodologis;

6. Pekerja pers: wartawan dan semua yang mendukung proses produksi pers/media;

7. Manajemen pers: lembaga pers yang baik dikelola secara manajerial yang baik dan secara/oleh profesional di bidangnya.

II. Journalist dan Reporter

1. Journalist adalah wartawan
2. Reporter adalah juru berita
B. Pers Sebagai Indutsri

I. Lembaga/badan usaha pers sebagai business entities dan industri

Harus dipahami/diterima, bahwa usaha media/pers (vetak, radio, televise, dan virtual) adalah kegiatan menghasilkan produk tertentu dan menjualnya, dan dari penjualan tersebut usaha media/pers menerima pendapatan. Dari pendapatan itu keseluruhan usaha media/pers dan harus pula memperoleh kelebihan/laba untuk kepentingan deviden (pemegang), pengembalian modal (terutama investasi dari pinjaman bank, dall), meningkatkan infrastruktur, dan meningkatkan kesejahteraan karyawannnya, serta memberikan kenyamanan tertentu kepada masyarakat konsumennya.

Memang masih ada sebagian wartawan/pimpinan pengelola usaha media/pers, bahwa penerbitan/penyiaran/penayangan/vertualiti yang dikelolanya bukan industri – mereka merasa tercederai rohaninya, karena kegiatan kewartawanan dikatakan sebagai bagian dari industri media/pers. Usaha kewartawanan memang kegiatan profesional di bidang intelektual yang menggunakan piranti teknis khusus/tertentu (jusnalistik ), tetapi, kegiatan kewartawanan berada di bawah usaha media/pers, yang sekarang sepenuhnya diatur oleh Undang-undang (UU) No. 1/1995 tentang Perseroan Terbatas, dan kegiatan pers oleh Undang-undang (UU) No. 40/1999 tentang Pers dan standar etis/teknis/professional oleh Kode Etik Jurnalistik.

II. Pers dikelola secara manajerial, secara professional, dan oleh para professional di bidangnya

Konsekwensi usaha media/pers sebagai business entities/industrial, maka suka atau tidak suka harus dikelola secara business-like/manajerial, dan secara professional serta oleh professional di bidangnya, agar perjalanan usaha pers/media dapat/d diperhitungkan bekerja/berjalan sesuai diharapkan pemegang saham dan memenuhi harapan masyarakat konsumennya. Dan, manajemen (pengurus) dan semua SDM yang berada dalam struktur/semua staf harus menjalankan tugas-tugas sesuai job-deskripsi/focus tugas, system/mekanisme kerja dibakukan agar mencapai tujuan/sasaran/target masing-masing, yang akhirnya menjadi progress/performance usaha media/pers yang disampaikan kepada pemegang saham.

C. Pers, Today challenge an Future

I. Today Challenge

1. Jumlah unit usaha pers berkembangbiak setelah Reformasi;

2. Persaingan sangat ketat dan terjadi seleksi alamiah terhadap usaha pers – usaha pers/media yang tidak manajerial dan professional akan rontok;

3. Sebagian SDM wartawan belum sepenuhnya professional – sebagian wartawan tidak memahami apa itu profesi wartawan;

4. Sebagian wartawan sebagai SDM kunci dalam industri pers belum sepenuhnya menyadari kalau mereka bagian dari usaha/industri pers;

5. Sebagian manajemen usaha pers masih lemah dalam marketing dan pengelolaan investasi/administrasi keuangan yang berdisiplin;

6. Sebagian usaha pers/media belum mampu memenuhi skala usaha di bidang usaha pers secara minimal;

7. Sebagian usaha media/pers tidak mendapatkan kue iklan secara minimal;

8. Penerimaan karyawan pers relative masih rendah;

9. Terjadi saling reduksi antara pers cetak, televise, radio, dan virtual, khususnya dalam memperebutkan kue iklan;

10. Masyarakat semakin cerdas, dan pasar semakin menentukan dan mengadili semua produk media secara kejam;

II. Pers in the Future

1. Usaha pers yang mampu memenuhi kebutuhan dan melayani kepentingan masyarakatnya (pembaca, pendengar, pemirsa, dan netters) yang akan dipilih/memenangkan pasar, dan seterusnya harus mampu konsisten dan menjaga kepercayaan konsumen dan mitra/relasi bisnisnya;

2. Uaha pers yang dikelola dengan manajemen yang baik (business-like) dan secara professional/oleh professional yang memenangkan persaingan;

3. Setiap usaha pers yang memenuhi skala minimal saja yang memiliki peluang untuk survive;

4. Keseluruhan SDM yang bergerak dalam usaha pers harus mengembangkan team-work yang solid/kohesif dan bekerja secara integratif;

5. Pers yang ramah/peduli/melindungi kepentingan masyarakat konsumen dan mitra/relasi bisnis yang mampu membangun dan memiliki daya keunggulan lebih;

September 29, 2006 Posted by | Makalah narasumber | Tinggalkan komentar

Berita dan Seni Menulis Berita

Berita dan Seni Menulis Berita Oleh H.Darlis Syofyan 1. Berita SALAH satu isi suratkabar adalah berita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berita adalah, cerita atau keterangan tentang kejadian atau peristiwa yang hangat. Dalam masyarakat kita, berita itu sudah menjadi kebutuhan. Buktinya, jika seseorang bertemu kawan, apalagi kawan lama, ucapan pembuka kata adalah, “Apo kaba (apa kabar)?”. Masih dalam KBBI, Kabar itu artinya berita. Kabar yang dimaksudkan adalah, berita yang harus disampaikan kepada kawan, dalam bentuk lisan. Tidak jauh beda sebenarnya bahasa lisan dengan bahasa tulisan. Walaupun dalam bahasa lisan, kita bisa memberikan pengantar yang panjang, dengan membumbui berbagai ilustrasi, kemudian baru sampai kepada isi. Namun berita yang disampaikan secara lisan itu akan lebih baik, jika kita juga memakai lead atau teras, apalagi jika kita beri judul. Misalnya ketika kawan bertanya apa khabar, langsung dijawab dengan memberi judul. “Kini ada kabar buruk. Rekan kita Amir meninggal karena kecelakaan, di jalan A.Yani, Payakumbuh pagi tadi. Ia mengendarai roda dua kemudian jatuh disenggol oplet, mayatnya di rumah sakit”. Jika kita tuliskan kabar singkat itu persis sebagai judul dan teras berita di suratkabar. Orang lebih enak mendengar berita singkat yang jelas seperti itu dibanding penyampaian yang dibumbui dengan pengantar dan cerita yang panjang. Misalnya ada cara orang menyampaikan berita lisan memulai dengan kata, ondeh kemudian dibumbui dengan kata gawat dan mengerikan, sudah lima menit ia bicara, penerima berita belum bisa mengambil sari informasi yang dibawa itu, kecuali sipendengar larut pula dalam ekspresi orang yang menyampaikannya, seperti sedih dan gemetaran serta seperti kehilangan akal. Dari peristiwa itu muncul pertanyaan, bagaimana menuliskannya dalam berita? Pertanyaan tersebut muncul, bagi mereka yang berminat untuk menulis sebuah berita di suratkabar. Orangnya mungkin kita semua yang berada di ruangan ini. Pengamalan saya menjadi wartawan 30 tahun, pertanyaan yang paling banyak diajukan kepada saya oleh rekan-rekan yang tidak menekuni suratkabar adalah, bagaimana cara menulis berita? Jawaban saya singkat saja, menulis berita itu adalah seni. Sebab salah satu arti seni adalah, keahlian membuat karya yang bermutu. Jadi menulis berita itu juga suatu keahlian. Karena dia seni, menurut saya tidak banyak pula orang yang mampu menguraikan cara menulis berita yang baik. Mungkin sama dengan belajar sepakbola. Ada memang teorinya dan sama seluruh dunia, tetapi kenapa Pele dari Brazil yang menjadi pemain dunia, kenapa tidak Joko Malis yang dari Indonesia? Bolanya sama bulat, lapangannya sama panjang dan buku pintarnya juga sama. Begitu pula dengan wartawan, ada yang baik penulisan beritanya ada yang sedang-sedang saja. Namun demikian untuk menuliskan sebuah berita, kita harus berangkat dari fakta-fakta dan mengikuti kaidah-kaidah yang harus di pegang oleh wartawan. Berita suratkabar hanya menyajikan fakta-fakta, tidak boleh beropini. Sedangkan berita di majalah, penekanan beritanya kepada analisis dan cendrung berbentuk feature, semua itu disebut karya jurnalistik. 2. Seni menulis berita Para pengamat pers cendrung membagi karya yurnalistik dalam bentuk tulisan menjadi tiga. 1. Stright News, berita terbaru yang dimuat di suratkabar yang juga disebut sebagai spot news ataupun breaking news. 2. News Feature , memperkaya straight news dengan human interest (kemanusian), ini cerita di balik peritiwa dengan mengungkapkan latar belakang dan persspektif dari berita tersebut. 3. Feature orang, media menyebutnya sebagai artikel kreatif, terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan, ini disajikan dengan bahasa yang khas. Berita tersebut terdiri dari; 1. Judul 2. Lead (teras berita) 3. Isi (batang tubuh) 1. Judul Kekuatan utama dari sebuah berita itu terletak di judulnya. Ketika seseorang melihat Koran di lapak penjualan, mata mereka tertuju kepada judul yang menarik, dari sanalah muncul hasrat untuk membaca berita itu dan tentunya diiringi dengan kerelaan untuk membuka dompet membeli suratkabar tersebut. Judul berita dibuat dengan kalimat pendek, tapi menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Usahakan memakai kalimat aktif. Contohnya, “Truk Tabrak Amir dan Tewas”. Bandingkan dengan kalimat pasif, “Amir Tewas Ditabrak Truk”. Ada beberapa ukuran yang biasanya dipakai untuk membuat judul • Jangan padatkan semua di situ, hanya highlight saja. • Ringkas hanya tiga maksimal delapan kalimat • Buat aktif • Katanya sederhana, jika singkatan harus yang dimengerti orang • Merketable, judul itu hendaknya bersifat menjual • Attraction, mampu menarik calon pembeli • Intention, mendorong minat orang untuk mengetahui isinya. • Action, akhirnya mereka bereaksi untuk membeli suratkabar kita. 2. Lead (teras berita) Setelah judul, isi berita itu bisa dilihat pada lead dan teras berita. Dari lead itulah orang bisa memahami isi berita tersebut. Mereka yang sibuk, cukup hanya dengan membaca lead, mereka sudah tahu isi berita tersebut. Dan dari lead itu pulalah yang mendorong orang ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang berita tersebut. Kunci menulis lead adalah, 5 W + 1 H dan + 1 S. Lima W adalah, What (Apa), Where (Dimana), When (Kapan), Why (Mengapa), Who (siapa) . Satu H adalah How (Bagaimana) Satu S adalah security (keamanan). Lead ini, diambilkan dari yang paling menarik dari suatu peristiwa, sehingga wartawan menyebut juga lead itu sebagai kunci berita. Atau ada juga yang menyebut platuk berita. Bobot dan kepintaran wartawan dalam menyajikan berita akan terlihat pada kemampuannya dalam menuliskan lead berita. 3. Badan Berita Badan berita, penulisannya lazim disebut dengan teori piramida terbalik. Hal-hal yang pokok dan utama ditempatkan paling atas, sedangkan penjelasan serta keterangan tambahan yang berhubungan dengan berita tersebut dituliskan secara sistimatis dalam badan atau tubuh berita. Namun penulisan dalam badan berita itu harus terarah dan tidak boleh ke luar dari lead. Dalam piramida terbalik ini sengaja dibuatkan semakin ke bawah, berita tersebut semakin tidak penting. Ini membantu redaktur dalam memotong berita jika tempat tidak tersedia dengan cukup di halaman suratkabar. Namun pemotongan berita itu tidak akan merusak keutuhan informasi yang dibawa oleh berita tersebut. Mencari Berita Berita itu ada yang datang dari Tuhan dan yang dicari oleh wartawan. Datang dari Tuhan misalnya undangan acara dan bencana alam atau peristiwa kecelakaan yang menimpa diri manusia. Dan yang lain ada berita yang dicari oleh wartawan atau investigasi. Apapun berita itu jenisnya, yang harus di rinci betul adalah tentang Sumber. Harus jelas nama, umur dan jabatan atau peranannya dalam berita serta peristiwa. Terhadap data-data yang didapat harus dilakukan cek dan ricek bahan yang sudah didapat, hal ini juga harus dilakukan menyangkut akurasi waktu, tempat serta lamanya terjadi peristiwa. Terhadap hal ini sekarang wartawan sudah memakai istilah triple cek. Ada tujuh hal penting yang harus diperhatikan dalam menulis berita 1. Watawan harus memahami informasi yang mereka tulis 2. Tampilkan fakta-fakta yang mendukung 3. Jangan terlalu banyak klise hadirkan informasi yang spesifik yang dibutuhkan pembaca. 4. Organisasikan tulisan itu dengan baik 5. Gunakan tata bahasa, tanda baca dan ejaan secara baik 6. Tuliskan berita secara berimbang 7. Sadarilah bahwa kita menyampaikan informasi kepada pembaca yang membeli koran kita secara benar. Bahasa Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik. Selalulah gunakan ejaan yang benar. Jika menulis berita, selalulah melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika ada istilah asing atau bahasa daerah, tulislah dengan miring dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia**.

September 29, 2006 Posted by | Makalah narasumber | Tinggalkan komentar

PROYEK AMBURADUL

September 26, 2006 Posted by | tugas peserta | Tinggalkan komentar

Media yang Sehat Mendorong Otonomi Daerah yang Sehat

Padang, Agustus (Haluan)
‘Media yang Sehat Mendorong Otonomi Daerah yang Sehat’. Tema itu diangkat Indonesia Media Law and Policy Centre (IMLPC) dan Research Triangle Institute (RTI) dalam sebuah seminar guna memperkenalkan dan memberikan pemahaman kepada birokrat pemerintah daerah tentang mekanisme kerja media massa.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program USAID-LGSP (Local Governance Support Program) yang dilaksanakan pada 60 kabupaten/kota dari 7 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Sulawesi Selatan,” ujar Program Manager IMLPC Dyah Aryani P, seperti diungkapnya dalam siaran pers kepada Haluan, Senin (28/8).
Pada seminar yang akan digelar tanggal 31 Agustus 2006 itu, ‘dokter pers’ dari IMLPC akan memberikan kiat-kiat jitu kepada birokrat sebagai pejabat publik dalam berhadapan dengan media, agar kesalahan atau kekeliruan pemberitaan tidak terjadi. Kalaupun terjadi, para birokrat akan diberikan ‘resep’ penyelesaian melalui mekanisme hak jawab atau hak koreksi.
“Sedangkan untuk institusi pers, ‘dokter pers’ dari IMLPC akan memberikan ‘resep’ ampuh bagaimana berhadapan dengan birokrat jika mereka (birokrat) melayangkan gugatan atau keberatan atas kesalahan atau kekeliruan pemberitaan yang dilakukan institusi pers,” ujar Dyah.
Beberapa tokoh dijadwalkan menjadi narasumber pada kegiatan tersebut, yaitu Gamawan Fauzi (Gubernur Sumbar), Leo Batubara (anggota Dewan Pers), Irwan Setyawan (Pemred Indo Pos), Indra J Piliang (Peneliti CSIS), Zenwen Pador (Forum Peduli Sumbar), Bambang Hermanto (Kabid Humas Polda Sumbar) dan Sutan Zaili Asril (PU Padang Ekspress).
“Gubernur Sumbar akan berbagi langsung dengan peserta seminar tentang pengalamannya secara pribadi maupun sebagai pejabat publik (saat menjabat Bupati Solok) yang pernah diberitakan secara keliru oleh media massa, serta kiat-kiatnya berhadapan dengan pers dalam kaitan fungsi pejabat publik memberikan layanan publik dan fungsi media sebagai alat kontrol,” kata Dyah.
(nov)

September 25, 2006 Posted by | Berita | 1 Komentar

Dugaan Korupsi di RSAM Bukittinggi

Masalah pengadaan barang medis di kota Pariwisata Bukittinggi mulai diselidiki. Dugaan korupsi dan permainan kotor terorganisir dalam pengadaan barang-barang medis di RSAM Bukittinggi mulai terungkap.

Bukittinggi, September (Haluan)
MASALAH pengadaan barang-barang medis yang nilainya mencapai milyaran rupiah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi dr Achmad Moechtar atau dikenal dengan nama RSAM Bukittinggi, satu-satu mulai terungkap ke permukaan. Sebuah mesin sterilisasi alat-alat medis yang dibeli dengan harga Rp Rp 1,5 milyar, belum setahun pakai sudah rusak.
Sumber “Haluan” menyebutkan, alat Sterilisator Steam Boiler CAP 450 l dengan merk HS 6610 Getinge, ini dibeli pada tahun anggaran 2004 seharga Rp 1.529.034.000,-. Baru tiga bulan pakai sejak awal 2005 sudah rusak. Ironisnya, selama enam bulan teknisinya tak pernah muncul. Lalu baru diperbaiki mejelang akhir tahun 2005 atau mendekati berakhirnya masa jaminan.
Namun sejak empat bulan silam, Getinge kembali rusak dan sampai sekarang dibiarkan tak berfungsi begitu saja. Dari delapan unit peralatan sterilisasi peralatan medik, hanya satu unit yang masih berfungsi sampai sekarang, yaitu merk Acoma, meskipun sudah berusia cukup lama.
Kemudian alat Metriary Refriator for 4 boddies, (kulkas jenazah) merk TSN 029 M4 Tesena yang juga dibeli tahun anggaran 2004, seharga Rp 175.224.000,- diduga palsu. Sebab yang ada di kamar mayat sekarang, menurut sumber “Haluan” sebenarnya adalah Kulkasindo berlabel “Tesena”.
Mulai terkuaknya beberapa peralatan medis yang diduga jauh dibawah standar mutu ini, Direktur RSAM dr. Azwir Dahlan yang dihubungi “Haluan” melalui telefon genggamnya mengatakan, sebaiknya mengenai hal ini hubungi langsung Wakil Direktur Nur Yanuar, Apth yang lebih menguasai permasalahan tersebut.
“Kalau pun kita bertemu di kantor, saya juga akan minta bantuan kepada Wadir Nur Yanuar untuk menjelaskan masalah ini. Oke, ya Pak Syam,” kata Azwir Dahlan kepada wartawan “Haluan” dari balik telefon genggamnya.

Komite Medik tak berfungsi
Terjadinya dugaan berbagai permainan dalam pengadaan sejumlah peralatan medik, terutama sejak tahun anggaran 2003, 2004 dan 2005, itu karena system atau mekanisme tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena memang tidak ada itikad dari pihak pimpinan RSAM untuk melaksanakan system yang sudah ditetapkan melalui Kepmendagri No 1/2002 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Daerah.
Dalam hubungan ini, salah seorang sumber “Haluan” dari Padang menyebutkan, pada Pasal 7 ayat (4) mencantumkan, Komite Medik mempunyai tugas membantu Direktur dalam menyusun standar pelayanan medik, membantu pelaksanaannya, melaksanakan pembinaan etika profesi, mengatur kewenangan profesi anggota staf medik fungsional dan mengembangkan program pelayanan.
Dalam hal pengadaan barang-barang medis, kata sumber “Haluan”, Komite Medik berperan penting dalam membantu direktur menetapkan standar mutu barang dan kompetitif sebelum ditetapkan untuk dibeli. Sebab dalam Komite Medik akan diplenokan, pertama, alat dapat digunakan langsung oleh user, standar mutu dan harga kompetitif.
Mekanisme pengadaan peralatan rumah sakit, bermula dari permintaan masing-masing para dokter ahli kepada Kepala Bagian. Selanjutnya Kepala Bagian meneruskan kepada Direktur. Kemudian Direktur memberikan dispensasi kepada Komite Medik, untuk selanjutnya dibentuk Sub Komite Medik Farmasi dan Terapi.
Sub Komite Medik Farmasi dan Terapi inilah yang melaksanakan proses seleksi sejumlah sejumlah produsen melalui agen tunggal. Minimal untuk sebuah alat medik harus ada tiga merk dari tiga pabrik /negara yang berbeda. “Misalkan, mutu buatan Korea berada 10 persen dibawah buatan Jerman, tetapi harga 50 persen lebih rendah. Maka dipililh Korea karena lebih kompetitif dan sekali gus menyelamatkan uang negara,” kata sumber tadi.
Mekanisme seperti ini seperti sengaja tidak dilakasanakan di RSAM Bukittinggi, sehingga peralatan medis dengan anggaran mencapai puluhan milyar itu, selama tiga tahun anggaran, kenyataannya rata-rata dibawah standar mutu. Selama tiga tahun Komite Medik RSAM Bukittinggi diketuai dr. Harmon Zaldi, Ahli Bedah. Kemduian, terakhir dibentuk baru dengan Ketua Telsi Sulaiman, Sp OG, Konk (ahli kangker)
“Inilah pertanyaan besar sekarang, apakah pihak RSAM mau secara konsisten melaksanakan system pengadaan peralatan medik sesuai aturan. Itu semua tergantung kepada kemauan untuk memfungsikan Komite Medik secara benar dan sungguh-sungguh,” katasumber “Haluan” menambahkan.
Dalam hubungan ini, masalah mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit, khususnya RSAM Bukittinggi, sudah anjlok. Hal ini terbukti dari tingginya angka kematian jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini, dan juga terjadi di beberapa rumah sakit yang lain di Sumatra Barat, tentu saja jauh dari harapan dan misi Pemda Sumatra Barat dalam PJM (Pembangunan Jangka Menengah) yakni meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Ditangani Kepolisian
Sementara itu, kasus dugaan korupsi dalam pengadaan barang-barang medis di RSAM Bukititnggi, telah dilaporkan ARAK (Alinasi Rakyat Anti Korupsi) Bukittinggi kepada pihak berwajib pekan lalu. Pihak kepolisian telah menerima sejumlah bahan-bahan atas dugaan korupsi dalam pengadaan peralatan medis di RSAM.
“Kita hanya tinggal tunggu kapan pihak kepolisian turun melakukan penyelidikan atas kasus RSAM ini,” kata Koordinator ARAK Bukittinggi Yulius Rustam yang dihubungi “Haluan” kemarin. Kasus RSAM ini, khususnya untuk pengadaan tahun anggaran 2003, 2004 dan 2005, diusung pihak ARAK yang didukung sejumlah personel dari LSM TII (Transparancy International Indonesia), Eltayasa dan juga dari personel yang peduli terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bebas korupsi di kota Bukittinggi.
Menurut Yulius Rustam, terjadinya dugaan berbagai kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang-barang medik di RSAM Bukittinggi, diduga dilakukan secara terorganisir dan sistematis. “Termasuk dalam hal ini tak terelakkan peranan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Karena itu, keboborokan di internal RSAM, khususnya dalam pengadaan peralatan medis yang berakibat kepada anjloknya mutu pelayanan rumah sakit, sudah seharusnya dibongkar tuntas.”
“Sebab jika tidak dituntaskan masalah permainan kotor yang terorganisir ini, tidak saja berakibat buruk terhadap pelayanan rumah sakit, namun perilaku korup yang merusak akan terus berkembang dan merajalela,” kata Yulius Rustam. (syas)

September 24, 2006 Posted by | Berita | Tinggalkan komentar